BELAJAR BAHASA ARAB – Kebutuhan orang untuk bisa berkomunikasi (baik berbicara maupun membaca) dalam bahasa arab meningkat tajam. Dengan berbagai latar belakang mulai dari pekerjaan, tuntutan belajar agama, sampai mengejar beasiswa ke negeri-negeri arab.

Oleh karena itu kami membuat panduan ini secara lengkap dan komprehensif untuk Anda yang memiliki kemauan keras mempelajari bahasa Arab.

1. Nahwu – Shorof
Inilah ilmu gramatikal yang hanya bisa ditemui pada bahasa Arab.

1

Nahwu adalah ilmu untuk mengetahui hukum akhir dari suatu kata bahasa Arab. Meskipun sulit dicari kesetaraannya pada bahasa Indonesia, bisa dibilang ilmu ini ibarat tanda yang menentukan kedudukan kata dalam kalimat layaknya subyek, predikat, obyek, dan keterangan atau yang kita kenal dengan SPOK.

Contoh:

جَاءَ رَجُلٌ
(Seorang lelaki datang)
kata رجل dalam kalimat ini diberi harakat dhammah karena berfungsi sebagai subyek.

رَأَيْتُ رَجُلاً
(Aku melihat seorang lelaki)
kata رجل dalam kalimat ini diberi harakat fathah karena berfungsi sebagai obyek.

مَرَرْتُ بِرَجُلٍ
kata رجل dalam kalimat ini merupakan objek namun diberi perlakuan khusus dengan diberi harakat kasrah karena didahului oleh kata بِ

Shorof adalah ilmu tentang perubahan kata bahasa Arab. Ilmu ini ibarat imbuhan dalam bahasa Indonesia, namun perubahannya jauh lebih kompleks daripada awalan me- dan di- ataupun akhiran -kan. Sebuah kata dalam bahasa Arab bisa mengalami perubahan sebanyak lebih dari 20 kali. Inilah yang membuat bahasa Arab dikenal sebagai bahasa dengan kosakata terbanyak di dunia.

Contoh:

ـ نَصِر menolong
ـ نَاصِر penolong
ـ مَنْصُوْرٌ yang ditolong

2. Al-Harfu (اَلْحَرْفُ)

2

A. Huruf Mabany (Huruf Hijaiyah)

Huruf yang digunakan untuk menyusun suatu kata. Huruf ini terbagi menjadi 2, yaitu:

Huruf ‘Illah
Ada 3 huruf yaitu: ا و ي
Huruf Shohih
Seluruh huruf hijaiyah selain ا و ي

B. Huruf Ma’any

Huruf-huruf yang mempunyai makna. Beberapa macam huruf ma’any di antaranya:

Huruf Jer
Huruf yang membuat kata setelahnya secara umum berharokat akhir kasroh. Di antara huruf-huruf jer adalah:

مِنْ , إِلىَ , عَنْ , عَلىَ , فِى , رُبَّ , بِ , كَ , لِ

Huruf Athof
Huruf yang digunakan untuk menghubungkan antara satu kata dengan kata yang lain. Di antara huruf-huruf athof adalah:

وَ , ثُمَّ , أَوْ

3. Kalimah (الْكَلِمَةُ)

3

Kalimah (kata) adalah lafaz yang mempunyai makna.

A. Ism (Isim)

Kata yang menunjukkan atas suatu makna tanpa terikat waktu atau yang biasa disebut dengan kata benda.

Contoh:

كِتَابٌ ـ بَيْتٌ ـ دِيْنٌ ـ بَابٌ ـ أسْتَاذٌ ـ شَجَرَةٌ

B. Fi’il

Kata yang menunjukkan atas suatu makna dengan terikat waktu atau yang kita kenal dengan sebutan kata kerja.

Contoh:

نَصَرَ (menolong)
كَتَبَ (menulis)
ضَرَبَ (memukul)
جَلَسَ (duduk)
قَتَلَ (membunuh)
أَكَلَ (makan)

C. Huruf

Kata yang tidak mempunyai makna yang sempurna kecuali setelah bersambung dengan kata yang lain. Huruf yang dikategorikan sebagai kalimah adalah huruf-huruf ma’any.

Perbedaan antara Ism dan Fi’il (الْفَرْقُ بَيْنَ الاِسْمِ وَ الْفِعْلِ)

Ciri-ciri Ism (عَلاَمَاتُ الاِسْم)

التََّنْوِيْن

مِثْلُ :{ فَلاَ تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَندَادًا وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ} البقرة:٢٢

الخَفْض

مِثْلُ : {بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} الفاتحة:١

الْأََلِفُ وَاللاَّم

مِثْلُ :{ ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ ِفيهِ} البقرة:٢

حَرْفُ الجَرِِّ

مِثْلُ :{ وَلاَ تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ} البقرة:٤٢

Ciri-ciri Fi’il (عَلاَمَاتُ الْفِعْل)

قَدْ

مِثْلُ :{ قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ} البقرة:٦۰

(اَلسِِّيْنُ (سَـ

مِثْلُ : { سَيَجْعَلُ اللهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا} الطلاق:٧

سَوْفَ

مِثْلُ : {كَلاَّ سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ} التكاثر:٤

تَاءُ التَأْنِيْث ِالسَاكِنَةُ

مِثْلُ : {قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَـنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا} مريم : ١٨

Catatan:

Baik ism maupun fi’l, hurufnya tidak ada ciri khusus. Untuk mengetahuinya harus dihafal. Sebuah kata sudah cukup dikatakan sebagai ism atau fi’il apabila telah menerima salah satu dari tanda di atas.
Pada ciri ism, antara tanda “tanwin” dan “alif lam” tidak akan pernah bertemu. Untuk fi’il, seringkali ciri-cirinya tidak disebutkan. Cara praktis untuk mengetahuinya adalah dengan menghafal ciri ism dan menghafal macam-macam huruf. Apabila tidak termasuk ism maupun huruf berarti dia termasuk fi’il.

4. Idhofah (اَلإِضَافَةُ)

Idhofah adalah bentuk penyandaran antara satu kata dengan kata yang lain. Jika disetarakan dengan bahasa Indonesia, bentuknya seperti frase.

Contoh:

رَسُوْلُ اللهِ

رَسُوْلُ – مُضَافٌ

اللهِ – مُضَافٌإِلَيْهِ

عَذَابُ الْقَبْرِ

عَذَابُ – مُضَافٌ

الْقَبْرِ – مُضَافٌإِلَيْهِ

Ketentuan Umum:
Mudhof tidak boleh ditanwin
Mudhof ilaih biasanya berharokat akhir kasroh
Mudhof dan mudhof ilaih kedua-duanya merupakan ism

5. Jumlah Mufidah (الجُمْلَةُ المُفِيْدَةُ / اَلْكَلاَمُ)

Jumlah mufidah adalah susunan kata yang memberikan faedah yang sempurna. Maksudnya, kalimat tersebut memiliki susunan yang lengkap sehingga mudah dimengerti maknanya, memiliki subyek dan predikat atau semacamnya.

Contoh:

عَلِيٌّ مَِرْيضٌ (Ali sakit)

رَجَعَ عَلِيٌّ (Ali kembali)

Adapun susunan kata yang tidak memberikan faedah yang sempurna tidak dinamakan sebagai Jumlah Mufidah.

Contoh:

إِنْ رَجَعَ عَلِيٌّ (jikalau Ali pulang)

إِنْ رَجَعَ عَلِيٌّ فَأَكْرِمْهُ (jika Ali pulang maka aku membencinya)

5

Jumlah ismiyah adalah kalimat yang diawali dengan ism.

Contoh:

عَلِيٌّ مَِرْيضٌ (Ali sakit)

مُحَمَّدٌ نَبِيٌّ (Muhammad adalah seorang nabi)

Jumlah fi’liyah adalah kalimat yang diawali dengan fi’il.

Contoh:

ذَهَبَ زَيْدٌ

Susunan kalimat seperti inilah yang paling sering digunakan dalam bahasa Arab. Secara bahasa, kalimat ini berarti pergi Zaid. Namun susunan seperti ini tidak lazim dalam bahasa Indonesia sehingga penerjemahan yang baik adalah Zaid pergi.

6. Syibhul Jumlah (شِبْهُ الْجُمْلَةِ)

Syibhul jumlah adalah rangkaian kata yang mirip dengan jumlah.

6

Zhorof adalah kata yang digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu atau tempat

Contoh:

أمَامَ(di depan) , وَرَاءَ (di belakang) – ظَرْفُ الْمَكَانِ

بَعْدَ (setelah) , قَبْلَ (sebelum) – ظَرْفُ الزَّمَانِ

Ism yang terletak setelah huruf jer dan zhorof maka secara umum berharokat akhir kasroh (Ism Majrur)

Contoh:

مِنَ السُوْقِ – جَرٌّ وَ مَجْرُوْرٌ

أمَامَ المَنْزِلِ – ظَرْفٌ وَ مَجْرُوْرٌ

7. Pembagian Ism Ditinjau Dari Segi Jumlah Bilangannya
أَقْسَامُ الاِسْم تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى عَدَدِه

7

A. Ism Mufrod

adalah ism yang jumlah bilangannya satu. Contoh:

مُؤْْمِنٌ (Seorang mukmin)

كَافِرٌ (Seorang kafir)

B. Ism Mutsanna

adalah ism yang jumlah bilangannya dua. Contoh:

مُؤْْمِنَانِ / مُؤْْمِنَيْن (dua orang mukmin)

كَافِرَانِ / كَافِرَيْن (dua orang kafir)

Cara pembentukan ism mutsanna

Dengan menambahkan huruf alif dan nun atau ya dan nun pada akhir isim mufrodnya.

مُفْرَدٌ + ان/ين اِسْمٌ

Contoh:

مُؤْْمِنَانِ/ مُؤْْمِنَيْن <= مُؤْْمِنٌ + ان/ين

كَافِرَانِ/كَافِرَيْنِ <= كَافِرٌ + ان/ين

C. Ism Jamak

adalah ism yang jumlah bilangannya lebih dari dua. Ism Jamak terbagi menjadi 3:

– Jamak Mudzakkar Salim
– Jamak Muannats Salim
– Jamak Taksir

Jamak Mudzakkar Salim

Jamak yang dibentuk dari ism mufrodnya yang digunakan untuk menunjukkan jenis laki-laki.

Contoh:

مُؤْمِنُوْنَ / مُؤْمِنِيْنَ (Para laki-laki mukmin)

كَافِرُوْنَ / كَافِرِيْنَ ( Para laki-laki kafir)

Cara pembentukan ism jamak mudzakkar salim yaitu dengan menambahkan wawu dan nun atau ya dan nun pada akhir ism mufrodnya.

مُفْرَدٌ + ون/ين اِسْمٌ

Contoh:

مُؤْمِنُوْنَ/مُؤْمِنِيْنَ <= مُؤْمِنٌ + ون/ين

كَافِرُوْنَ/كَافِرِيْنَ <= كَافِرٌ + ون/ين

Jamak Muannats Salim

Jamak yang dibentuk dari ism mufrodnya yang digunakan untuk menunjukkan jenis perempuan.

Contoh:

مُؤْمِنَاتٌ (Para perempuan mu’min)

كَافِرَاتٌ (Para perempuan kafir)

Cara pembentukan ism jamak muannats salim

مُفْرَد ٌ ( × ة ) + ات اِسْمٌ

Contoh:

مُؤْمِنَاتٌ <= مُؤْمِنٌ + ات <= مُؤْمِنَةٌ) × ة)

كَافِرَاتٌ <= كَافِرٌ + ات رَسُوْلٌ

بَيْتٌ => بُيُوْتٌ

كُتُبٌ => كِتَابٌ

أُسْتَاذٌ => أسَاتِيْذٌ

Ketentuan Jamak

Ketentuan ism agar dapat dibentuk menjadi jamak mudzakkar salim:

1. Nama orang

Contoh:

مُحَمَّدُوْنَ/مُحَمَّدِيْنَ <= مُحَمَّدٌ

زَيْدُوْنَ/زَيْدِيْن <= زَيْدٌ

2. Sifat

a. فَاعِلٌ

Contoh:

كَاتِبٌ , نَاصِرٌ

b. مُفْعِلٌ

Contoh:

مُسْلِمٌ , مُفْسِدٌ

c. مُفْتَعِلٌ

Contoh:

مُجْتَهِدٌ , مُسْتَمِعٌ

d. مُفَاعِلٌ

Contoh:

مُنَافِقٌ , مُجَاهِدٌ

e. مَفْعُوْلٌ

Contoh:

مَقْتُولٌ , مَنْصُوْر

8. Pembagian Ism ditinjau dari segi jenisnya
تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى نَوْعِه

8

A. Ism Mudzakkar

Adalah ism yang menunjukkan jenis laki-laki

Ism Mudzakkar Haqiqi : ism yang berasal dari kelompok makluk hidup yang berjenis kelamin laki-laki.

Contoh:

تِلْمِيْذٌ (seorang siswa laki-laki)

أَسَدٌ (seekor singa jantan)

Ism Mudzakkar Majazi : ism yang berasal dari kelompok benda mati yang dianggap berjenis kelamin laki-laki berdasarkan kesepakatan orang Arab.

Contoh:

بَيْتٌ (Sebuah rumah)

قَمَرٌ (Bulan)

B. Ism Muannats

Adalah ism yang menunjukkan jenis perempuan

Ism Muannats Haqiqi : ism yang berasal dari kelompok makluk hidup yang berjenis kelamin perempuan.

Contoh:

مُدَرِّسَةٌ (Seorang pengajar perempuan)

هِرَّةٌ (Seekor kucing betina)

Ism Muannats Majazi : ism yang berasal dari kelompok benda mati yang dianggap berjenis kelamin perempuan berdasarkan kesepakatan orang arab

Contoh:

دَارٌ (Sebuah perkampungan)

شَمْسٌ (Matahari)

Tanda-Tanda Ism Muannats

1. Ism yang diakhiri dengan ta’ marbuthoh

Contoh:

مَدْرَسَةٌ (Sekolah)

قَلَنْسُوَةٌ (Peci)

مُدَرِّسَةٌ (Seorang pengajar perempuan)

مُسْلِمَةٌ (Perempuan muslimah)

2. Nama orang perempuan

Contoh:

مَرْيَمُ (Maryam)

زَيْنَب (Zainab)

3. Ism yang khusus untuk perempuan

Contoh:

أُمٌّ (Ibu)

مُرْضِعٌ (Orang yang menyusui)

4. Nama negara atau kota

Contoh:

إِنْدُوْنِيْسِيَا (Indonesia)

جُوْكْجَاكَرْتَا (Yogyakarta)

5. Nama anggota badan yang berpasangan

Contoh:

عَيْنٌ (Mata)

يَدٌ (Tangan)

6. Jamak taksir

Contoh:

كُتُبٌ (Buku-buku)

فِرَقٌ (Golongan-golongan)

Catatan:

Nama orang laki-laki, walaupun diakhiri dengan ta’ marbuthoh tetap dikatakan sebagai ism mudzakkar

Contoh :

أُسَامَةُ (Usamah)

مُعَاوِيَةُ (Mu’awiyah)

9. Pembagian Isim Ditinjau Dari Segi Kejelasannya (تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى تَعْيِيْنِهِ)

9

1. Ism Nakiroh
Adalah ism yang belum jelas penunjukannya. Contoh:
كِتَابُ طَالِبٍ (Buku seorang mahasiswa)
“Seorang mahasiswa” masih bersifat umum, belum jelas mahasiswa mana yang dimaksud sehingga disebut sebagai ism nakirah

2. Ism Ma’rifah
Adalah ism yang sudah jelas penunjukannya. Contoh:
كِتَابُ مُحَمَّدٍ (Buku Muhammad)
“Muhammad” sudah secara spesifik menunjuk kepada seseorang, sudah jelas siapa yang dimaksud sehingga disebut sebagai ism nakirah)

Macam-macam ism ma’rifah

1. Dhomir (kata ganti orang). Contoh:

هُوَ – أَنْتَ – أَنَا

2. Ism Isyaroh (kata penunjuk). Contoh:

هَذَا – ذَالِكَ

3. Ism Maushul (kata sambung). Contoh:

اَلَّذِيْ- اَلَّذِيْنَ

4. ‘Alam (nama orang). Contoh:

عُمَرُ – مُحَمَّدٌ – خَدِيْجَةُ

5. Ism yang ada alif dan lam. Contoh:

اَلْبَيْتُ – اَلْمِصْبَاحُ – اَلْمَسْجِدُ

6. Ism yang disandarkan pada ism ma’rifah yang lain. Contoh:

كِتَابُ مُحَمَّدٍ – صَاحِبُ البَيْتِ

Catatan:
1. Ism Nakiroh biasanya mempunyai harokat akhir yang bertanwin. Contoh:

مُسْلِمٌ – مِصْبَاحٌ

2. Nama orang walaupun bertanwin tetap dikatakan sebagai ism ma’rifah dan bukan sebagai ism nakiroh. Contoh:

مُحَمَّدٌ – زَيْدٌ

3. Apabila suatu ism disandarkan pada ism nakiroh, maka dia adalah ism nakiroh. Namun apabila disandarkan pada ism ma’rifah, maka dia adalah juga sebagai ism ma’rifah. Contoh:

كِتَابُ طَالِبٍ – كِتَابُ مُحَمَّدٍ

10. Pembagian Ism Ditinjau Dari Sisi Bangunan Akhirnya (تَقْسِيْمُ الاِسْمِ بِالنَّظَرِ إِلَى بُنْيَتِهِ)

10

A. Ism Ghoiru Shohih Akhir

1. Ism Maqshur

Ism Maqsur adalah ism yang diakhiri dengan huruf alif lazimah yaitu huruf alif yang senantiasa melekat di akhir dari suatu kata. Alif lazimah kadang tertulis dengan huruf ya’ tanpa titik, akan tetapi dalam pengucapannya tetap dibaca sebagai huruf alif.

Contoh:

اَلْهُدَى (Petunjuk)

اَلْفَتَى (Remaja)

اَلْعَصَا (Tongkat)

2. Ism Manqush

Isim Manqush adalah isim yang diakhiri dengan huruf ya’ lazimah dan huruf sebelumnya berharokat kasroh.

Contoh:

اَلْهَادِي (Pemberi petunjuk)

اَلْقَاضِي (Hakim)

اَلدَّاعِي (Penyeru)

3. Ism Mamdud

Ism Mamdud adalah ism yang diakhiri dengan huruf hamzah dan sebelumnya berupa alif za’idah (tambahan).

Contoh:

صَحْرَاءُ (Padang pasir)

سَمَاءٌ (Langit)

اِبْتِدَاءٌ (Permulaan)

B. Ism Shohih Akhir

Semua ism yang tidak masuk dalam kategori Isim Maqshur, Manqush ataupun Mamdud.

Contoh:

خَيْلٌ (Kuda)

حِمَارٌ (Keledai)

ثَوُبٌ (Baju)

Catatan:

Jika ism mamdud berupa ism jamak, maka ia tidak boleh ditanwin.
Jika ism mamdud merupakan ism muannats, maka ia tidak boleh ditanwin.
Semua ism yang diakhiri dengan huruf-huruf shohih (kecuali hamzah) maka dia adalah ism shohih akhir.

11. Ism Ghoirul Munshorif (اَلْمَمْنُوعُ مِنَ الصَّرْفِ / غَيْرُ الْمُنْصَرِفِ)

Ism Ghoirul Munshorif adalah ism yang tidak boleh ditanwin dan dikasroh.

Contoh: عُثْمَانُ – مَسَاجِدُ – عُمَرُ – عَائِشَةُ

Syarat-syarat ism ghoirul munshorif:

1. Tidak sebagai mudhof (disandarkan pada ism yang lain)

Contoh: صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدَ

مَرَرْتُ بِعُمَرَ

Apabila ism ghoirul munshorif ini sebagai mudhof, maka batal hukumnya.

Contoh: صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدِ هِم

2. Terbebas dari alif dan lam

Contoh: صَلَّيْتُ فِى مَسَاجِدَ

مَرَرْتُ بِعُمَرَ

Apabila ism ghoirul munshorif ini memakai alif dan lam, maka batal hukumnya.

Contoh: صَلَّيْتُ فِى المَسَاجِدِ

Kelompok ism yang masuk dalam kategori ghoirul munshorif

1. Bentuk jamak yang berpola مَفَاعِلُ (shighoh muntahal Jumu’)

Contoh: مَسَاجِدُ – مَقَاعِد

2. Ism maqshur yang berjenis muannats

Contoh: كُبْرَى – حُبْلَى

3. Ism mamdud yang berjenis muannats

Contoh: صَحْرَاءُ – حَمْرَاءُ

4. Nama perempuan

Contoh: مَرْيَمُ – عَائِشَةُ

5. Nama yang berpola فُعَلُ

Contoh: عُمَرُ – زُحَلُ

6. Nama yang diakhiri dengan tambahan alif dan nun ان

Contoh: عُثْمَانُ – سَلْمَانُ

7. Nama orang asing (selain arab) / nama ajam

Contoh: إِبْرَاهِيْمُ – إِسْمَاعِيْلُ

Catatan:

1. Ism maqshur yang bukan kelompok muannats, maka tidak termasuk isim ghoirul munshorif.

Contoh: هُدًى – فَتًى

2. Semua nama orang yang diakhiri dengan ta marbuthoh maka dia ghoirul munshorif walaupun digunakan untuk nama orang laki-laki.

Contoh: مُعَاوِيَةُ – طَلْحَةُ

3. Nama negara dan kota dikategorikan sebagai nama perempuan sehingga termasuk kelompok ghoirul munshorif.

Contoh: بَغْدَادُ – مِصْرُ

1.2 Ism Isyaroh dan Ism Maushul

اِسْمُ الْإِشَارَةِ(Kata Penunjuk)
اَلاِسْمُ الْمَوْصُوْلُ(Kata Sambung/Penghubung)

13. Ism Mu’rob Dan Ism Mabni (اَلاِسْمُ الْمُعْرَبُ وَالاِسْمُ الْمَبْنِيُّ)

(jangan lupa diagram)
1. Ism Mu’rob

Ism mu’rob adalah ism yang dapat berubah keadaan akhirnya disebabkan oleh adanya perbedaan letak (posisi) dalam suatu kalimat.

Contoh:

الْكِتَابُ جَدِيْدٌ (Buku itu baru)

قَرَأْتُ الكِتَاب (Aku membaca buku itu)

فِي الكِتَابِ قِِصَصٌ (Di dalam buku itu terdapat kisah-kisah)

1. Ism Marfu’

Ism marfu’ adalah ism yang biasanya pada keadaan akhirnya ditandai dengan harokat dhommah.

Contoh: مُحَمَّدٌ – أُسْتَاذٌ – طَالِبٌ

2. Ism Manshub

Ism manshub adalah ism yang biasanya pada keadaan akhirnya ditandai dengan harokat fathah.

Contoh: مُحَمَّدًا – أُسْتَاذًا – طَالِبًـا

3. Ism Majrur

Ism majrur adalah ism yang biasanya pada keadaan akhirnya ditandai dengan harokat kasroh.

Contoh:
مُحَمَّدٍ – أُسْتَاذٍ – طَالِبٍ

Kata Ganti Orang : Dhomir (اَلضَّمِيْرُ)

A. Dhomir Munfashil

Dhomir Munfashil adalah dhomir yang penulisannya terpisah dengan kata yang lain.

Pembacaan Tabel

هُوَ Dia (Seorang laki-laki)

هُمَا Mereka (Dua orang laki-laki/perempuan)

هُمْ Mereka (Para lelaki)

أَنْتَ Kamu (Seorang laki-laki)

أنْتُمْ Kalian (Para lelaki)

dst..

Contoh:

هُوَ أُسْتاَذٌ (Dia adalah seorang Ustadz)

أَنَا مسْلِمٌ (Aku adalah seorang muslim)

B. Dhomir Muttashil

Dhomir Muttashil adalah dhomir yang penulisannya bersambung dengan kata yang lain.

Pembacaan Tabel

كِتَابُهُ Bukunya (Buku milik laki-laki itu)

كِتَابُهُنَّ Buku mereka (Buku milik para perempuan itu)

كِتَابُُنَا Buku kami

dst..

C. Dhomir Mustatir

Dhomir Mustatir adalah dhomir yang tidak tertulis dalam kalimat akan tetapi tersembunyi dalam suatu kata.